(diadaptasi GG
ti Doel Sumbang
tina lagu; Pabaliut)
Kuring baturna Entin
Entin baturna Rustam
Rustam baturna Oneng
Oneng baturna Darman
Darman baturna Acah
Acah baturna Unang
Unang baturna Edoh
Edoh baturna Dayat
Dayat baturna Mumun
Mumun baturna Edeng
Edeng baturna Ecin
Ecin baturna Oyo
Oyo baturna Epon
Epon baturna Kurdi
Kurdi baturna Embe
Embe baturna Kuring
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Golput itu Takdir
sengaja pulang berharap dapat undangan
conform; tak ada dalam daftar pemilih tetap
juga tidak dalam daftar pemilih cadangan
bukan salah siapa-siapa
ini pasti kehendak alam
tidak memilih boleh jadi takdir
Tuhan pasti punya rahasia
kepada orang-orang terpilih
untuk tidak memilih
selamat memilih..!
selamat dipilih..!
--kakaren pesta demokrasi, 9 april 2009--
conform; tak ada dalam daftar pemilih tetap
juga tidak dalam daftar pemilih cadangan
bukan salah siapa-siapa
ini pasti kehendak alam
tidak memilih boleh jadi takdir
Tuhan pasti punya rahasia
kepada orang-orang terpilih
untuk tidak memilih
selamat memilih..!
selamat dipilih..!
--kakaren pesta demokrasi, 9 april 2009--
Kiamat Lebih Cepat: Mei 2012...!!!

Telah beberapa lama isu kiamat beredar di internet, makin hari cenderung makin heboh, tidak saja di Indonesia melainkan dunia. Hal itu bersumber dari kitab kuno Bangsa Maya yang terkenal lebih dahulu canggih pengetahuannya terhadap alam semesta. Primbon Bangsa Maya tersebut kemudian diperiksa oleh para astronom dengan pengetahuan dan teknologi terkini. Hasilnya, sungguh menggetarkan dan nyaris meresahkan. Dikatakannya alam semesta akan jatuh tempo alias kiamat pada 21 Desember 2012.
Bertolak dari situ, siang kemarin saya coba melakukan meditasi dan melakukan 'peneropongan bathin' di atas dahan pohon kersen (chery) di depan rumah. O ya, pohon kersen saya hidup rukun dengan pohon bintaro yang tumbuh di sebelahnya. Butir-butir buah kersen saya umpamakan sebagai planet dan bintang-bintang. Sedangkan mulut saya analogikan sebagai lubang hitam alias black hole. Benar saja bintang-bintang dan planet yang sudah tua akan lumat. Seperti lumatnya buah kersen yang merah ranum didalam mulut. Demikianlah proses perenungan itu saya lakukan sampai menemukan bahwa ternyata memang benar kiamat itu akan jatuh pada tahun 2012. Dan temuan saya lebih dahsyat bahwa kiamat itu datangnya akan lebih cepat 7 bulan dari yang ramai diprediksi para ilmuwan (Desember), yakni di bulan Mei.......mei be yes..! mei be No..!
Sejujurnya saya sama sekali tak percaya kiamat besar (hancurnya alam semesta) akan terjadi di tahun 2012. Yang saya percayai 100 prosen adalah bahwa kiamat itu merupakan rahasia Illahi. Kiamat kecil (kiamat sughra) yakni kematian, tak ada satupun yang tahu tentang datangnya kematian itu. Kendati demikian memang diakui bahwa tanda-tanda kematian itu bisa mudah dikenali/diketahui. Tetapi siapa yang berani jamin seseorang yang 'jagjag waringkas' alias segar bugar besok lusa masih tetap hidup? Lalu siapa sangka orang-orang yang dikhabarkan telah divonis kematian oleh dokter (banyak kasus terjadi) lalu sampai sekarang masih segar-bugar. Ini semua adalah bukti dari Rahasia Ilahi yang dimaksud itu.
Konon lagi kiamat besar (kubro) yakni kematian alam semesta. Tak ada satupun yang tahu, bahkan konon Sang Rasul, tidak juga para malaikat. Tetapi tanda-tandanya (dari sisi ahlak/moral) memang dipertela dengan jelas oleh Sang Rasul. Silakan saja mengaji kembali tentang tanda-tanda kiamat yang telah dipertelakan oleh Rasul. Saya tak akan mengupasnya.
Yang menarik adalah untuk memeriksa apakah tingkatan ahlak/moral saat ini sudah mengindikasikan ke arah terjadinya kiamat besar? Ha ha, tentu saja akan sulit juga menilainya ... wee! Karena pasti banyak ukuran/persepsi tentang moral dan sialnya lagi kadang selalu ada pembenarannya.
Kalau begitu, mari saja kita lihat ahlak/moral masing-masing (diri sendiri), dengan nurani tentunya. Itu lebih pasti, lebih masuk akal dan lebih objektif, karena nurani selalu jujur. Nah jika hasilnya menunjukkan bahwa ahlak diri makin hari makin buruk, maka itu nyata sekali pertanda kiamat diri. Konkritnya begini, jika Anda mulai tertarik korupsi dan kemudian menjadi hobi maka siap-siap saja dipecat dari pekerjaan dan dipenjara (ini maksudnya kiamat diri). Contoh-contoh lain dapat Anda kembangkan, tapi jangan membiki-bikin contoh yang lain, bercontohlah dengan dipandu nurani.
Aih..aih..mengapa malam ini menjadi begitu spiritual?? Mungkin karena berita kiamat tadi. So, terima kasih kepada Bangsa Maya dan para astronom yang telah mempublikasikan berita kiamat ini. Memang demikian, untuk mengingat akhirat harus terus dipicu bahwa kiamat akan terjadi besok. Seperti halnya mengejar keduniawian bahwa kiamat itu mestinya masih 1 milyar tahun lagi (mengacu prediksi matinya matahari).***
Sejenak, Menyoal Pohon Beracun
Sebenarnya saya selalu tak hirau dengan sensasi-sensasi murahan. Tetapi karena hal ini menyangkut kehidupan sahabat saya, maka saya akan menyingsingkan lengan baju untuk itu.
Saya atas nama Keluarga Pohon Beracun menuntut kepada pihak yang bertanggungjawab untuk memberikan klarifikasi yang edukatif dan apresiatif tentang kami, dan juga menuntut permohonan maaf kepada kami; Keluarga Pohon Beracun.
Janganlah berbuat anarki terhadap kami! Cegah pihak yang berwenang dan warga lingkungan sekitar Anda untuk berbuat sewenang-wenang terhadap kami (mencabut, menebang, atau mutilasi pohon). Lupakan sensasi pohon beracun! Jangan takut, kembalilah ke kehidupan normal. Dan jangan lupa rawat dan peliharalah kami, niscaya kami akan membalasnya dengan kebaikan pula.
Apa jadinya jika sensasi direspon secara reaktif oleh suatu tindakan atau kebijakan???
Menyoal Pohon Beracun
Oleh: Ganip Gunawan*
Saya baru saja pulang dari sebuah perkampungan Dayak penganut Kaharingan di Kalteng. Ada sebuah pertanyaan yang cukup menyentak dari seorang sahabat dari tokoh masyarakat setempat, ketika mengetahui bahwa saya adalah orang Sunda. Pertanyaannya begini; “Mengapa pohon-pohon di tanah Sunda yang dianggap beracun akan ditebang?”. “Bukankah orang Sunda paling dikenal memiliki pengetahuan tinggi dan ramah dengan pohon? “. Dia menanyakan hal itu selepas menonton televisi yang tiba-tiba saja heboh memberitakan pohon beracun di Kota Bandung.
Saya tergagap dengan pertanyaan itu, kemudian menjawabnya dengan pertanyaan lagi; “Apakah di kampung sini ada pohon beracun?”. Kelihatannya dia menunggu pertanyaan saya seperti itu. Lalu menjawabnya; “Semua pohon beracun, hanya sebagian kecil yang dapat kami makan. Tetapi pohon-pohon beracun tidak kami tebang. Saya salut sama pengetahuan orang Sunda karena terkenal lebih banyak mengenal dan memakan jenis-jenis pohon/tanaman sebagai lalapan atau disayur.” Terlihat dia menyunggingkan senyuman, seperti senyuman kemenangan. Ini adalah sindiran telak dari seorang sahabat baru saya di Kalteng.
Banyak hal yang berbahaya/beracun
Saya merenungi sindiran sahabat tadi dengan cara mengamati lingkungan sekitar dalam perjalanan saya pulang. Cobalah tengok, karena hal inipun dapat dengan sangat mudah dijumpai di lingkungan Anda sendiri. Dan dari situ saya makin menyadari bahwa banyak hal di lingkungan kita yang berbahaya. Bahkan jauh lebih berbahaya daripada pohon beracun.
Saya pulang meninggalkan perkampungan Dayak menggunakan perahu, dilanjutkan dengan kendaraan darat sampai ke Sampit, lalu naik pesawat, naik bis bandara, dan diakhiri dengan naik kereta listrik untuk sampai tiba di rumah. Seluruh alat transportasi tersebut berbahaya. Bahaya alat transportasi/lalu lintas tersebut menduduki urutan ketiga sebagai ‘pembunuh’ di Indonesia. Setiap tahunnya rata-rata merengut 30.000 korban akibat kecelakaan lalu lintas.
Sepanjang perjalanan darat tak putus saya melihat bentangan kabel aliran listrik. Aliran listrik tersebut sekarang jauh dapat menjangkau tempat-tempat yang dulu dikategorikan terpencil. Aliran listrik masuk ke rumah-rumah, dimana di dalamnya tinggal anak-anak dan bayi. Padahal aliran listrik tersebut tidak kalah berbahayanya. Sangat sering kita jumpai dalam berita sehari-hari dari media tentang kejadian dan jumlah korban akibat listrik, yakni kebakaran atau korban jiwa akibat sengatannya.
Sampai tiba di rumah saya melihat banyak hal lain lagi yang berbahaya. Mulai dari dapur seperti gas (LPG) atau minyak tanah, aliran listrik tentu saja, obat anti serangga dan lain-lain; sampai ke beranda dan pekarangan rumah dimana kita tanam berbagai pohon.
Saya mengingat kembali pelajaran sewaktu saya kuliah di Fakultas Kehutanan IPB. Mata ajaran itu bernama Dendrologi, yakni ilmu pengenalan jenis-jenis pohon, meliputi tentang: taxon, morfologi, sifat dan sebarannya. Dari situ saya tahu bahwa sebagian besar pohon/tanaman tidak bisa dimakan karena berbahaya, bahkan oleh binatang sekalipun.
Anda mungkin tahu ada satu jenis singkong yang sengaja dibudidayakan oleh masyarakat tetapi singkong itu beracun bahkan babi sekalipun enggan memakannya. Di daerah Pangandaran jenis singkong itu disebut Sampeu Lambong (Manihot esculenta), memiliki zat berbahaya karena mengandung sianida.
Dari dahulu kami mengetahui bahwa banyak pohon seperti bintaro, akasia dan juga bunga mentega adalah berbahaya karena mengandung racun. Dan sesungguhnya jauh lebih banyak lagi spesies yang berbahaya. Tetapi bahayanya tidaklah sehoror seperti yang diberitakan baru-baru ini. Sungguh keterlaluan, bahkan ada pihak yang mengatakan hanya dengan menyentuhnya bisa membuat lumpuh. Sontoloyo!
Mungkin menurut sudut pandang manusia pohon itu berbahaya. Tetapi dari sudut pohon, itu adalah sistem alami yang dikembangkan sebagai strategi pertahanannya, dan sama sekali bukan untuk membahayakan manusia. Pohon dapat mengembangkan pertahanannya dengan bebagai ragam cara mulai dari evolusi morfologinya (misalnya berduri atau bau) serta mengembangkan zat-zat beracunnya.
Sekarang coba saja amati seluruh tanaman yang ada di beranda atau di pekarangan rumah Anda. Coba temukan tanaman/pohon apa yang tidak berbahaya atau tidak mengandung racun? Dan berapa banyak yang berbahaya? Sebagai panduan untuk melihat tingkat bahayanya, Anda bisa memeriksa apakah bagian dari tanaman/pohon tersebut dapat dimakan, apakah getahnya membuat gatal, apakah jika tersenggol dapat menyebabkan luka atau apakah jika dicium membuat kepala pening. Lalu bagaimana Anda akan bersikap terhadap seluruh tanaman/pohon yang Anda miliki? Apakah seluruh tanaman yang masuk dalam kategori bahaya menurut Anda akan ditebas habis?
Berharmoni dengan tanaman/pohon
Sebelum kita bersikap terhadap tanaman/pohon yang berbahaya. Sebaiknya kita lihat dahulu hal lain yang jauh lebih berbahaya daripada pohon beracun. Yang perlu kita lihat adalah logikanya. Kalau Anda setuju bahwa alat-alat transportasi, listrik, gas (LPG) dan obat anti serangga seperti saya singgung di atas adalah berbahaya (atau mengandung bahaya). Apakah lantas kemudian kita akan melarang penggunaan kendaraan, listrik, gas, dan obat anti serangga?
Hal seperti itulah yang saya tangkap dari logika sensasi pohon beracun di Bandung. Warga dibuat resah. Dinas Tata Kota setempat dan Walikota dibuat sibuk untuk hal yang sebenarnya tidak perlu karena ada beberapa pihak merekomendasikan untuk membongkar habis seluruh tanaman yang mengandung racun. Kendati pada sisi lain patut diapresiasi atas responnya yang cukup sigap karena berkenaan dengan keselamatan publik.
Sensasi pohon beracun tersebut sekarang telah menular dari Bandung ke kota-kota lainnya, termasuk Jakarta. Beberapa tempat lingkungan pemukiman di bilangan Jakarta telah memulai mencabut/menebang pohon bintaro. Di Bandung konon pohon-pohon yang dicurigai beracun telah mulai dimutilati (dikupas kulitnya). Jika pemerintah tidak hati-hati dan bersikap reaktif untuk menebang seluruh pohon yang beracun atau membahayakan, tentu hal ini akan membikin repot bagi semua. Bahkan salah-salahnya akan berakibat bencana karena alam (ekosistem) akan terganggu.
Coba saja kita hantar/ikuti logikanya. Apa yang telah dilakukan oleh beberapa orang peneliti dari Bandung tentang kandungan racun dan bahayanya jenis tanaman tertentu, belumlah seberapa. Karena kalau penelitiannya dilanjutkan akan ada ribuan tanaman/pohon lain lagi yang mengandung bahaya. Dan itu tersebar tidak hanya di ruang-ruang publik di perkotaan melainkan tersebar di seluruh pelosok tanah air dimana di situ terdapat penduduk atau pemukiman, yang memiliki hak sama untuk mendapat perlindungan pemerintah atas keselamatan dari bahaya tanaman/pohon berbahaya/beracun.
Jika demikian maka akan ada jutaan kubik biomas yang akan hilang, ribuan spesies akan terancam punah, dan sudah pasti akan berakibat pada keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. Belum lagi dari sisi perekonomian, akan banyak nilai ekonomi yang hilang dari keberadaan tanaman/pohon beracun. Karena sebagian dari tanaman/pohon itu sebaliknya justru memberi manfaat lain seperti untuk obat, kosmetik, bahan baku industri dan lain-lain. Pada sisi lainnya lagi anggaran baru akan tersedot untuk proyek nasional pembongkaran tanaman/pohon beracun. Anda dapat melanjutkan alurnya; .. poyek-proyek baru kemudian bermunculan, ladang baru untuk menyemai benih korupsi...
Sudah-sudah! Sudah cukup, tak perlu dihantar/diikuti lagi logikanya. Karena logikanya itu tidak masuk akal. Melawan alam. Seorang sahabat lain di Bogor bergurau, katanya mungkin akan lain persoalan jika yang perlu dibongkar itu adalah tanaman atau buah pohon impor yang ‘bahayanya’ sangat nyata bagi perekonomian dan ekosistem lokal, dan digantikan dengan jenis-jenis tanaman lokal yang telah melalui proses pemuliaan tanaman.
Apa yang perlu kita lakukan agar dapat berharmoni dengan tanaman/pohon? Jawabanya sederhana. Penelitian boleh terus dilakukan, dan itu penting. Hasilnya dipaparkan atau direkomendasikan secara lebih edukatif (bukannya secara horor), serta direspon oleh pemerintah secara arif dan bijak.
Jika yang dikhawatirkan bahwa yang menjadi sasaran dari akibat negatif pohon berbahaya itu adalah anak-anak, maka membuat modul-modul ajaran tentang pohon jauh lebih mudah, lebih murah dan lebih mendidik bagi anak-anak sekolah. Dengan cara itu apresiasi anak-anak terhadap pohon dan lingkungan hidupnya akan tumbuh. Mereka kita didik untuk kreatif dan alternatif jika melihat lingkungan di sekitarnya berbahaya. Bukannya dengan cara instan dibongkar lingkungannya itu, seperti diperagakan dari wacana atau sensasi pohon beracun saat ini.
Memasang papan-papan himbauan yang kreatif di ruang terbuka atau taman-taman publik juga jauh lebih murah, aman dan sederhana ketimbang membongkar seluruh tanaman yang ada serta menggantinya dengan tanaman baru yang kita juga belum tahu atau tidak ada jaminan bebas dari bahaya atau mengandung racun.
Sementara itu, penelitian dan dokumentasi atau statistik tentang kecelakaan akibat pohon bebahaya perlu terus dipantau/direkam. Sehingga kita juga dapat menentukan tindakan kreatif/alternatif berikutnya jika dari situ terbukti bahaya pohon beracun itu berada pada tingkat yang mengkhawatirkan, misalnya karena banyak korban berjatuhan.
Tapi sampai sejauh ini saya telah coba selusur dari Dr. Google untuk mencari angka/statistik korban tanaman/pohon berbahaya/beracun bagi manusia. Hasilnya NIHIL alias tak saya temukan. Korban jatuh dari pohon atau tertimpa pohon memang sesekali terjadi. Tetapi secara statistik sama sekali tidak signifikan. Dan yang lebih penting lagi tak ada korelasi apa-apa dengan kandungan zat kimia (racun) dari yang dikandung oleh pohon tersebut.***
Catatan: Jika Anda mau menjadi sahabat kami --Keluarga Besar Pohon Beracun-- sebarkan informasi ini kepada yang lain (sahabat, kerabat dan kolega Anda, khususnya pada lingkungan komunitas RT/RW dimana Anda tinggal. Terima kasih atas bantuannya. Salam hijau!
Saya atas nama Keluarga Pohon Beracun menuntut kepada pihak yang bertanggungjawab untuk memberikan klarifikasi yang edukatif dan apresiatif tentang kami, dan juga menuntut permohonan maaf kepada kami; Keluarga Pohon Beracun.
Janganlah berbuat anarki terhadap kami! Cegah pihak yang berwenang dan warga lingkungan sekitar Anda untuk berbuat sewenang-wenang terhadap kami (mencabut, menebang, atau mutilasi pohon). Lupakan sensasi pohon beracun! Jangan takut, kembalilah ke kehidupan normal. Dan jangan lupa rawat dan peliharalah kami, niscaya kami akan membalasnya dengan kebaikan pula.
Apa jadinya jika sensasi direspon secara reaktif oleh suatu tindakan atau kebijakan???
Menyoal Pohon Beracun
Oleh: Ganip Gunawan*
Saya baru saja pulang dari sebuah perkampungan Dayak penganut Kaharingan di Kalteng. Ada sebuah pertanyaan yang cukup menyentak dari seorang sahabat dari tokoh masyarakat setempat, ketika mengetahui bahwa saya adalah orang Sunda. Pertanyaannya begini; “Mengapa pohon-pohon di tanah Sunda yang dianggap beracun akan ditebang?”. “Bukankah orang Sunda paling dikenal memiliki pengetahuan tinggi dan ramah dengan pohon? “. Dia menanyakan hal itu selepas menonton televisi yang tiba-tiba saja heboh memberitakan pohon beracun di Kota Bandung.
Saya tergagap dengan pertanyaan itu, kemudian menjawabnya dengan pertanyaan lagi; “Apakah di kampung sini ada pohon beracun?”. Kelihatannya dia menunggu pertanyaan saya seperti itu. Lalu menjawabnya; “Semua pohon beracun, hanya sebagian kecil yang dapat kami makan. Tetapi pohon-pohon beracun tidak kami tebang. Saya salut sama pengetahuan orang Sunda karena terkenal lebih banyak mengenal dan memakan jenis-jenis pohon/tanaman sebagai lalapan atau disayur.” Terlihat dia menyunggingkan senyuman, seperti senyuman kemenangan. Ini adalah sindiran telak dari seorang sahabat baru saya di Kalteng.
Banyak hal yang berbahaya/beracun
Saya merenungi sindiran sahabat tadi dengan cara mengamati lingkungan sekitar dalam perjalanan saya pulang. Cobalah tengok, karena hal inipun dapat dengan sangat mudah dijumpai di lingkungan Anda sendiri. Dan dari situ saya makin menyadari bahwa banyak hal di lingkungan kita yang berbahaya. Bahkan jauh lebih berbahaya daripada pohon beracun.
Saya pulang meninggalkan perkampungan Dayak menggunakan perahu, dilanjutkan dengan kendaraan darat sampai ke Sampit, lalu naik pesawat, naik bis bandara, dan diakhiri dengan naik kereta listrik untuk sampai tiba di rumah. Seluruh alat transportasi tersebut berbahaya. Bahaya alat transportasi/lalu lintas tersebut menduduki urutan ketiga sebagai ‘pembunuh’ di Indonesia. Setiap tahunnya rata-rata merengut 30.000 korban akibat kecelakaan lalu lintas.
Sepanjang perjalanan darat tak putus saya melihat bentangan kabel aliran listrik. Aliran listrik tersebut sekarang jauh dapat menjangkau tempat-tempat yang dulu dikategorikan terpencil. Aliran listrik masuk ke rumah-rumah, dimana di dalamnya tinggal anak-anak dan bayi. Padahal aliran listrik tersebut tidak kalah berbahayanya. Sangat sering kita jumpai dalam berita sehari-hari dari media tentang kejadian dan jumlah korban akibat listrik, yakni kebakaran atau korban jiwa akibat sengatannya.
Sampai tiba di rumah saya melihat banyak hal lain lagi yang berbahaya. Mulai dari dapur seperti gas (LPG) atau minyak tanah, aliran listrik tentu saja, obat anti serangga dan lain-lain; sampai ke beranda dan pekarangan rumah dimana kita tanam berbagai pohon.
Saya mengingat kembali pelajaran sewaktu saya kuliah di Fakultas Kehutanan IPB. Mata ajaran itu bernama Dendrologi, yakni ilmu pengenalan jenis-jenis pohon, meliputi tentang: taxon, morfologi, sifat dan sebarannya. Dari situ saya tahu bahwa sebagian besar pohon/tanaman tidak bisa dimakan karena berbahaya, bahkan oleh binatang sekalipun.
Anda mungkin tahu ada satu jenis singkong yang sengaja dibudidayakan oleh masyarakat tetapi singkong itu beracun bahkan babi sekalipun enggan memakannya. Di daerah Pangandaran jenis singkong itu disebut Sampeu Lambong (Manihot esculenta), memiliki zat berbahaya karena mengandung sianida.
Dari dahulu kami mengetahui bahwa banyak pohon seperti bintaro, akasia dan juga bunga mentega adalah berbahaya karena mengandung racun. Dan sesungguhnya jauh lebih banyak lagi spesies yang berbahaya. Tetapi bahayanya tidaklah sehoror seperti yang diberitakan baru-baru ini. Sungguh keterlaluan, bahkan ada pihak yang mengatakan hanya dengan menyentuhnya bisa membuat lumpuh. Sontoloyo!
Mungkin menurut sudut pandang manusia pohon itu berbahaya. Tetapi dari sudut pohon, itu adalah sistem alami yang dikembangkan sebagai strategi pertahanannya, dan sama sekali bukan untuk membahayakan manusia. Pohon dapat mengembangkan pertahanannya dengan bebagai ragam cara mulai dari evolusi morfologinya (misalnya berduri atau bau) serta mengembangkan zat-zat beracunnya.
Sekarang coba saja amati seluruh tanaman yang ada di beranda atau di pekarangan rumah Anda. Coba temukan tanaman/pohon apa yang tidak berbahaya atau tidak mengandung racun? Dan berapa banyak yang berbahaya? Sebagai panduan untuk melihat tingkat bahayanya, Anda bisa memeriksa apakah bagian dari tanaman/pohon tersebut dapat dimakan, apakah getahnya membuat gatal, apakah jika tersenggol dapat menyebabkan luka atau apakah jika dicium membuat kepala pening. Lalu bagaimana Anda akan bersikap terhadap seluruh tanaman/pohon yang Anda miliki? Apakah seluruh tanaman yang masuk dalam kategori bahaya menurut Anda akan ditebas habis?
Berharmoni dengan tanaman/pohon
Sebelum kita bersikap terhadap tanaman/pohon yang berbahaya. Sebaiknya kita lihat dahulu hal lain yang jauh lebih berbahaya daripada pohon beracun. Yang perlu kita lihat adalah logikanya. Kalau Anda setuju bahwa alat-alat transportasi, listrik, gas (LPG) dan obat anti serangga seperti saya singgung di atas adalah berbahaya (atau mengandung bahaya). Apakah lantas kemudian kita akan melarang penggunaan kendaraan, listrik, gas, dan obat anti serangga?
Hal seperti itulah yang saya tangkap dari logika sensasi pohon beracun di Bandung. Warga dibuat resah. Dinas Tata Kota setempat dan Walikota dibuat sibuk untuk hal yang sebenarnya tidak perlu karena ada beberapa pihak merekomendasikan untuk membongkar habis seluruh tanaman yang mengandung racun. Kendati pada sisi lain patut diapresiasi atas responnya yang cukup sigap karena berkenaan dengan keselamatan publik.
Sensasi pohon beracun tersebut sekarang telah menular dari Bandung ke kota-kota lainnya, termasuk Jakarta. Beberapa tempat lingkungan pemukiman di bilangan Jakarta telah memulai mencabut/menebang pohon bintaro. Di Bandung konon pohon-pohon yang dicurigai beracun telah mulai dimutilati (dikupas kulitnya). Jika pemerintah tidak hati-hati dan bersikap reaktif untuk menebang seluruh pohon yang beracun atau membahayakan, tentu hal ini akan membikin repot bagi semua. Bahkan salah-salahnya akan berakibat bencana karena alam (ekosistem) akan terganggu.
Coba saja kita hantar/ikuti logikanya. Apa yang telah dilakukan oleh beberapa orang peneliti dari Bandung tentang kandungan racun dan bahayanya jenis tanaman tertentu, belumlah seberapa. Karena kalau penelitiannya dilanjutkan akan ada ribuan tanaman/pohon lain lagi yang mengandung bahaya. Dan itu tersebar tidak hanya di ruang-ruang publik di perkotaan melainkan tersebar di seluruh pelosok tanah air dimana di situ terdapat penduduk atau pemukiman, yang memiliki hak sama untuk mendapat perlindungan pemerintah atas keselamatan dari bahaya tanaman/pohon berbahaya/beracun.
Jika demikian maka akan ada jutaan kubik biomas yang akan hilang, ribuan spesies akan terancam punah, dan sudah pasti akan berakibat pada keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. Belum lagi dari sisi perekonomian, akan banyak nilai ekonomi yang hilang dari keberadaan tanaman/pohon beracun. Karena sebagian dari tanaman/pohon itu sebaliknya justru memberi manfaat lain seperti untuk obat, kosmetik, bahan baku industri dan lain-lain. Pada sisi lainnya lagi anggaran baru akan tersedot untuk proyek nasional pembongkaran tanaman/pohon beracun. Anda dapat melanjutkan alurnya; .. poyek-proyek baru kemudian bermunculan, ladang baru untuk menyemai benih korupsi...
Sudah-sudah! Sudah cukup, tak perlu dihantar/diikuti lagi logikanya. Karena logikanya itu tidak masuk akal. Melawan alam. Seorang sahabat lain di Bogor bergurau, katanya mungkin akan lain persoalan jika yang perlu dibongkar itu adalah tanaman atau buah pohon impor yang ‘bahayanya’ sangat nyata bagi perekonomian dan ekosistem lokal, dan digantikan dengan jenis-jenis tanaman lokal yang telah melalui proses pemuliaan tanaman.
Apa yang perlu kita lakukan agar dapat berharmoni dengan tanaman/pohon? Jawabanya sederhana. Penelitian boleh terus dilakukan, dan itu penting. Hasilnya dipaparkan atau direkomendasikan secara lebih edukatif (bukannya secara horor), serta direspon oleh pemerintah secara arif dan bijak.
Jika yang dikhawatirkan bahwa yang menjadi sasaran dari akibat negatif pohon berbahaya itu adalah anak-anak, maka membuat modul-modul ajaran tentang pohon jauh lebih mudah, lebih murah dan lebih mendidik bagi anak-anak sekolah. Dengan cara itu apresiasi anak-anak terhadap pohon dan lingkungan hidupnya akan tumbuh. Mereka kita didik untuk kreatif dan alternatif jika melihat lingkungan di sekitarnya berbahaya. Bukannya dengan cara instan dibongkar lingkungannya itu, seperti diperagakan dari wacana atau sensasi pohon beracun saat ini.
Memasang papan-papan himbauan yang kreatif di ruang terbuka atau taman-taman publik juga jauh lebih murah, aman dan sederhana ketimbang membongkar seluruh tanaman yang ada serta menggantinya dengan tanaman baru yang kita juga belum tahu atau tidak ada jaminan bebas dari bahaya atau mengandung racun.
Sementara itu, penelitian dan dokumentasi atau statistik tentang kecelakaan akibat pohon bebahaya perlu terus dipantau/direkam. Sehingga kita juga dapat menentukan tindakan kreatif/alternatif berikutnya jika dari situ terbukti bahaya pohon beracun itu berada pada tingkat yang mengkhawatirkan, misalnya karena banyak korban berjatuhan.
Tapi sampai sejauh ini saya telah coba selusur dari Dr. Google untuk mencari angka/statistik korban tanaman/pohon berbahaya/beracun bagi manusia. Hasilnya NIHIL alias tak saya temukan. Korban jatuh dari pohon atau tertimpa pohon memang sesekali terjadi. Tetapi secara statistik sama sekali tidak signifikan. Dan yang lebih penting lagi tak ada korelasi apa-apa dengan kandungan zat kimia (racun) dari yang dikandung oleh pohon tersebut.***
Catatan: Jika Anda mau menjadi sahabat kami --Keluarga Besar Pohon Beracun-- sebarkan informasi ini kepada yang lain (sahabat, kerabat dan kolega Anda, khususnya pada lingkungan komunitas RT/RW dimana Anda tinggal. Terima kasih atas bantuannya. Salam hijau!
Langganan:
Postingan (Atom)