Mengenang 25 Tahun SMA N Pangandaran dan 25 Tahun Meninggalkan Kampung Halaman (1985-2010)
Tampilkan postingan dengan label Khabar Alumni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khabar Alumni. Tampilkan semua postingan

Alumnus Lintas Abad

GG alumnus abad 20, Okhass abad 21; sekampung, sealmamater, cukup lama saling berkontak tapi bersua pertama kali akhir tahun 2009 tempo hari di Medan, bah!
Saya terkesan dengan visi dan semangatnya. Pertemuan itu akan kukenang sampai batas waktu yang tidak ditentukan.***

Abas Suryadinata; Sang Penerang


Begitu menengok shoutbox dari kawan Aldi tentang Pak Abas, saya segera meluncur ke Cibenda mengontak kawan Iyus (yg meluncur sms tentunya). Benar tak diragukan; Guru kita Bapak Abas Suryadinata telah meninggalkan kita untuk selamanya.

Mendiang di mata saya adalah seorang guru bersahaja. Di mata saya, Beliau lebih ke-bapak-an daripada ke-guruan-an. Sosoknya ramping tetapi suaranya semi bariton, bisa tegas tetapi seringnya lembut, mengayomi dan melindungi. Mendiang selain menjadi 'penerang' bagi murid-muridnya di kelas, juga berperan sebagai 'penerang' bagi masyarakat Pangandaran yakni dengan merangkap menjadi agen koran yang tak segan mengantar sendiri koran ke para pelanggannya. Sungguh, beliau menjadi penerang dan tauladan bagi banyak orang.

Ya Allah, tak ada yang pantas untuk imbalan bagi Pak Abas Suryadinata, kecuali Kau terangi di alam kuburnya, dengan cahaya-Mu yang melindungi dan mengayomi; sebagaimana mendiang telah menjadi penerang,pelindung dan pengayom bagi kami anak-anak dan murid-muridnya. Amin...

Ctt: Seperti dalam posting "Perjalanan", Pak Abas adalah guru pertama Bahasa Indonesia di SMA N Pangandaran, meski hanya sekitar sebulan.

Khabar Alumni: "Habis Gelap Terbitlah Terang..."

Menunggu tak ada yang berbaik hati berbagi foto dan cerita, baiklah "kucuri" saja dari pesbuk. Terserah yang empunya mau mengizinkan. Daripada sepi?

Adalah seorang gadis. Dua dekade lalu. Hijrah mengikuti tugas bapaknya (yang dinas di Airud) dari Jawa ke Pangandaran. Gelap kulitnya. Tapi tak menyalahkan pantai Pangandaran karena sudah bawaannya dari sono.Sebaliknya hatinya malah tertambat di pantai Pangandaran, kendati hanya setahun saja. Dia adalah Andrie Wijaya (87).

... dua dekade kemudian ...

Lihat dan bandingkan saja fotonya. Untuk melihat Andrie di foto ketika pramuka tempo dulu di lahan tempat akan dibangunnya sekolah SMA N Pangandaran; kita harus ekstra memicingkan mata dikit. Bukan karena fotonya yang gelap, tapi kulitnya yang gelap, bukan? --selain kulit gelap juga sekilas kulihat di masa dulu , ini anak agak tomboy dikit--

Sekarang bandingkan setelah dua dekade lewat; nampak lebih terang (foto inzet), bukan? Tepat!; habis gelap terbitlah terang.

Pantaslah demikian karena hari-hari tak jauh dari gudeg. Andrie sekarang tinggal di Yogjakarta, sebagai Oemar Bakrie (kalau tak salah). Bertugas di daerah pantai Glagah (kalau tak salah). Maaf dua kali menyebut kalau tak salah. Kalau yang terahkir ini tak ada keraguan pasti benar; Jika Kerabat Alumni SMA N Pangandaran (khususnya 87, lho kok terbatas?) bertandang ke Yogja, mampirlah katanya (itu dichatingkan ketika pertama kali saya bersua kembali di dunia maya); untuk menikmati gudeg bikinanya, agar berubah menjadi putih sepertinya. ***

Khabar Alumni: Abdul Rojak P


Baru setelah lewat dua dekade saya tahu initial 'P', dari nama belakangnya --Prawiranegara. Karena dulu, sehari-hari saya panggil dia 'Rojak' saja. Pantas saja dia benama Prawiranegara, sesuai artinya 'berani', 'gagah', 'perwira'. Dia adalah 'Perwira' Osis Kedua, tepatnya Ketua Osis Angkatan Kedua SMA N Pangandaran di era tahun 1983/84 (menyandang alumni/lulus di tahun 1986). Di masa aktif kepengurusan Osis-nya dengan 'Berani' mempertanyakan hak-hak organisasi kepada pihak sekolah. Di kelas juga paling berani berdebat dengan guru (kawan Rojak berguru favorit Bu Rosmalia, Pak Jumsa dan Pak Nana Darna). 'Keperwiraan' dan 'Keberaniannya" itulah antara lain yang menjadi kenangan manis masa SMA-nya. Adapun tentang 'Kegagahan', saya serahkan deh pada Kerabat Alumnus untuk menyimaknya kembali. Lihatlah foto di disamping atas ini. Itu adalah foto keluarga kawan Rojak, bersama anak-istrinya di Jerman (telah 18 tahun dia merantau di Jerman). Apakah 'kegagahannya' masih terlihat membekas di foto? O ya, ada titip dari kawan Rojak, kepada seluruh kerabat alumnus SMA N Pangandaran, kalau main-main ke Jerman jangan lupa mampir ke rumahnya katanya. Irgendwann, einer unserer wir besuchen!***

Jadi atau tidak sih?

Hampir dua bulan saya berjalan menyusuri puzzle rimba Kalimantan. Segera setelah tiba kembali di dunia 'peradaban' banyak email diterima. Banyak pertanyaan muncul dari kerabat warga alumni SMA N Pangandaran. Pertanyaan itu adalah; "Jadi atau tidak sih acara reunian teh?". Beberapa kawan dekat seangkatan menyampaikannya melalui sms.

Saya ingin meluruskan dulu pertanyaan tersebut, pelurusan ini untuk diri sendiri; "Jadi atau tidak perayaan 25 tahun alumni SMA N Pangandaran?" Dan saya ingin menjawabnya, juga untuk diri sendiri. Jawabannya adalah; "Tentu saja jadi atuh..!".

Dan saya telah merayakannya selama hampir lebih dari 6 bulan, sejak pertama kali saya buat dan posting blog ini. Demikianlah cara saya merayakan sekaligus mengenang 25 tahun alumni SMA N Pangandaran --tempat persinggahan dimana saya dibesarkan.

Jawaban saya atas beberapa pertanyaan email dan sms dari kerabat almuni SMA N Pangandaran mungkin tidak nyambung dan tidak memuaskan. Saya akui itu. Karena untuk menjawab pertanyaan;"Jadi atau tidak sih acara reuni perak 2010 nanti?" Saya belum dapat menjawabnya, karena hal itu merupakan jawaban kolektif. Saya secara pribadi tak memiliki kapasitas untuk menjawabnya sendirian.***

Khabar Alumni: Foto Terakhir

Saya tertahan pergi ke Sampit (Kalteng) karena cuaca yang buruk. Jadi sambil menunggu atsmosfir membaik saya ingin memenuhi permintaan kawan Wiwin yang meminta foto terakhir saya, maksudnya foto yang paling mutakhir. Sebenarnya yang saya tampilkan di sini bukanlah benar-benar foto yang terakhir. Karena foto yang terakhir di kamera saya adalah foto belalang daun yang saya ambil di tepi kali kecil di dekat rumah. Yang penting mungkin bukan fotonya barangkali, tetapi aktivitasnya. Karena Wiwin dan banyak lagi kawan lain tanya ke saya; apa sih pekerjaanmu? Hmh, sungguh ampun, bagi saya pertanyaan itu susah untuk dijawab. Tak apa saya coba saja ... atau coba saja tebak!

Bertahun-tahun saya tak bisa menjelaskan ke orang tua dan kawan-kawan sepermainan di kampung; apa pekerjaan saya? Sering saya menjelaskannya kepada mereka dengan memilih kata-kata yang sederhana. Tetapi pertanyaan itu selalu saja muncul kembali. Semakin sering saya menjelaskan kepada mereka, justru sebaliknya malah yang menjadi semakin bertambah faham adalah diri saya sendiri. Yakni pemahaman tentang konsep kerja dalam idiom/perbendaharaan mereka di kampung.

Dalam persepsi mereka di kampung konsep orang bekerja mpan itu dicirikan antara lai; punya atasan/bos atau punya anak buah, punya ruang kerja/kantor lengkap dengan meja, berangkat pagi pulang sore, pakai seragam, dan tentu saja punya gaji bulanan. Karena orang di kampung menjadikan hal itu sebagai ukurannya maka tentu saja akan sulit memahami saya. Entah mengapa jauh sebelum saya meninggalkan kampung, saya ingin 'berontak' atas keadaan sosial saat itu. Karena orang-orang di kampung umumnya begitu terobsesinya punya anak-anak yang 'mapan' dan berkerja dengan ukuran itu. Sehingga apapun caranya ditempuh untuk dapat meraihnya yakni cara-cara klasik KKN, yang menjadi rahasia umum di jaman itu.

Tapi katanya sekarang juga ada neo-KKN? Ah ini sih bukan katanya, tapi dialami oleh kerabat istri di kampung. Entahlah saya tidak memiliki kapasitas untuk menilai apakah KKN itu buruk atau baik. Tetapi yang jelas dengan konsep kerja seperti itu, menurut saya sempit, membuat pilihan menjadi terbatas serta bikin buntu pikiran/kreatifitas. Contoh kerabat istri saya tadi di kampung; katanya dia sudah menunggu lebih dari dua tahun (dan katanya sudah habis sekian puluh juta) untuk menunggu giliran jadi PNS. Oh Mak! Fenomena seperti itulah yang membuat saya dulu ingin 'berontak'. Karena di situ saya menangkap 'ketidak adilan', dimana hanya orang-orang yang mampu (atau punya 'power) saja yang bisa 'bekerja'.

Bertahun-tahun saya bekerja (lebih tepatnya beraktualisasi) dan tidak memiliki semua ukuran-ukuran kerja menurut persepsi seperti orang sekampung yang disebutkan di atas. Saya tidak memiliki bos juga tidak punya anak buah, ruang kerja saya bisa dimana saja ok, belakangan bahkan awang-awang juga menjadi ruang kerja saya (internet maksudnya). Saya bebas mau berangkat atau tidak ke 'kantor' --kami memiliki studio, kalau boleh itu dikatakan kantor. 'Seragam' bekerja yang lebih banyak saya kenakan sehari-hari adalah kaos oblong dan celana pendek. Tetapi tentu saja jika ada perlu ketemu dengan orang saya akan pakai kemeja dan bersepatu, tetapi tidak berdasi (sumpah saya tak bisa pakai dasi). Jika ini tidak, itu tidak, hayo tebak apa dong 'pekerjaan' saya?

Anak saya yang bungsu dan baru masuk SD, pernah cerita di sekolahnya ketika suatu kali ditanya oleh gurunya:"Ayahmu bekerja apa Nak?" Fira, si bungsu, menjawab dengan jujur dan lugu. "Ayah bekerja sebagai tukang ketik Bu". Tidak salah karena mungkin itu yang sehari-hari dia lihat kalau saya sedang di rumah. Saya ingin memandu jawaban Anda atas tebakan saya dengan foto saya paling mutakhir (seperti dimintakan Wiwin) dibawah ini.



Jika ada pemintaaan dan saya ada/cocok waktunya, kadang-kadang menjadi "dosen luar biasa" di perguruan tinggi di Bogor atau Jakarta. "Luar biasa" di sini maksudnya luar biasa kecil honornya! Lalu dengan itu apakah pekerjaan saya dosen? May be yes, may be no!!. Sebenarnya tidaklah terlalu penting apa pekerjaan saya. Yang jauh lebih penting adalah mulai dapat mengubah persepsi orang dikampung tentang konsep kerja, karena saya langsung mencoba memberikan tauladannya dari banyak contoh dari jejaring saya.***

Menghidupkan Almamater Melalui Internet/Web

[GG, 23/8/08] Dalam dua minggu lalu blog ini dikunjungi dua orang kawan muda alumni SMA Nepang (Negeri Pangandaran) : Adi Sumaryadi dan Abi Okhass. Yang pertama angkatan 2002 yang kedua angkatan 2003 (benar toh?)

Dua sekawan tersebut, kupikir orang ketiga dan keempat, yang mampir ke blog ini. Mestinya ada orang ke lima, ke enam dan seterusnya jika dilihat dari peta dan statistik pengunjung. Tetapi mereka mungkin hanya berkunjung saja dan tak meninggalkan comment atau pesan di buku tamu. Kemungkinan yang lainnya lagi adalah mereka yang 'kesasar' ke blog ini, tak mengapa, terima kasih.

Adi dan Abi tidaklah mengherankan keduanya dengan cepat menemukan blog ini karena keduanya sehari-harinya bergelut dengan komputer dan internet. Keduanya melanjut sekolah di Bandung dan mengambil bidang IT. Abi bahkan di penghujung bulan ini (30 Ags 08) akan diwisuda. Selamat untuk Abi!

Berbincang di YM, keduanya menyambut baik gagasan untuk 'menghidupkan' almamater melalui internet/web. Pucuk dicinta ulam tiba! So, sebagai para ahlinya di bidang IT, silakan gulirkan gagasan tersebut. Gagasan itu bisa dimulai dengan membangun database alumni untuk bisa di-upload nantinya dalam situs resmi sekolah.

Saya pikir gagasan tersebut merupakan sumbangan alumni yang berharga untuk saat ini ke depan. Mengingat saat ini dan ke depan, internet akan menjadi salah satu basis vital untuk komunikasi berbagai keperluan. Sok mulai saja atuh!

Apa juga yang kita, angkatan 'tua' yang gaptek IT, bisa lakukan untuk mendukung gagasan itu? Yang paling konkrit dan langsung bisa dilakukan adalah berharap (berdoa): ada repson dari pihak sekolah sehingga proyek database alumni dan pembikinan situs resmi sekolah dapat berjalan dan bermanfaat bagi semua.

Mudah-mudahan saja khabar ini sampai ke sekolah.
___

Wanted!


[GG, 10/8/08] Ini foto saya temukan di belantara web (pada sebuah situs dari negeri Karawang). Kalau dari sisi tampilan umum tak ada keraguan alias 100% yakin! Tapi dari sisi tampilan dagu keyakinan berkurang 5%, jadi tinggal 95% (minus 5% karena janggut bin brewok!).

Tapi jika di-total-jenderal maka rata-rata 97,5%. Artinya tinggal 2,5% lagi (menunggu konfirmasi test DNA) untuk sampai pada keyakinan bahwa dia adalah ... SUSWARA!
___

Seperti Dahulu

[GG, 9/8/08] "Wow, kenapa kening jadi kelihatan tambah lebar dan rambutnya pendek? Banyak mikir ya? Sungguh saya pasti pangling dan nggak kenal kalau ketemu GG di jalan! Padahal saya mah tetap da masih seperti dahulu".

Itulah ekspresi dan pengakuan Wiwin ketika pertama kali lihat blog ini (dia orang pertama yang lihat blog ini). Ya, pengakuannya seperti itu: "Saya mah masih seperti yang dahulu". Kita lihat saja di foto. Coba periksa apakah masih seperti dahulu? Mungkin juga benar sih. Seperti halnya ... Kang Data ... apakah masih seperti dahulu (?)

Wiwin Wintarsih, Angkatan I, IPA 5, Asal Ciganjeng. Selepas khatam di SMAN Pangandaran terus melanjut ke Unsoed di Purwokerto. Setelah itu dia tak mau balik lagi ke Ciganjeng. Tahu mengapa? Tentu saja karena ketemu Kang Mas-nya di sana. Lagi pula dia sekarang bekerja di tempat almamaternya di Unsoed. Dari buah cintanya dengan Kang Mas Edy Maryanto dikaruniai 1 puteri dan 1 putera. So, kalau kawan ada yang main ke Purwokerto, sapa dan cobalah berkunjung ke Wiwin. Siapa tahu dapat traktir nasi pecel Purwokerto, yang terkenal se Purwokerto.
_____

Gurunya, Kawanku, Kawan Kita

[GG, 19/07/08] Kutunjukan pada sulungku, gurunya adalah kawanku, kawan kita. Pertama, Bapak Ngadiman van Sidomulyo (IPS 4). Seorang tauladan yang tiada terhenti beraktualisasi hanya dengan menjadi guru, profesi yang terpuji dan mulia, melainkan juga bergelut dengan tani. Kesuksesan di tani teraba dari tangannya ketika kugenggam di salaman pertama. Beliau terlihat di foto bersama guru private-ku, guru kehidupan, al muqarom Uned.

Ya kawan kita Uned dari IPS 5, 'Uned' tak kurang tak lebih namanya begitu dari dulu, 4 huruf. Tapi pengalaman hidupnya ruarr biasa menarik, itu dari sekilas yang kudengar disela-sela rapat orang tua siswa baru (kebiasaan ngobrol di kelas sejak dahulu tak lekang). Enam tahun satu bulan saya berkawan aktif dengan beliau, 3 tahun di SMP, 3 tahun di SMA, dan 1 bulan terakhir berkawan di SMS.



Berikutnya Ibu Siti Nuraeni dan Bapak Ngadino. Dua yang terakhir adalah kawan sewaktu di SMP Pangandaran. Ibu Siti Nuraeni --'Nur' demikian panggilan sayang saya padanya-- dan Bapak Ngadino, keduanya juga adalah para bintang di jaman SMP dulu. Sungguh sedikitpun saya tak ada keraguan untuk menitipkan si sulung untuk 'diwarah' oleh beliau-beliau. Hebatnya, kawan kita Ngadino, tak ada banyak perubahan fisik padanya. Pasti ini adalah buah dari hasil olah raga yang dicintai dan ditekuninya sejak kecil sampai menjadi profesi sekarang (guru olah raga).

Salam sukses selalu, kawan!

___